Hujan tak kunjung tiba, betonisasi jalan tak terasa manfaatnya.
Ada guyonan dengan para petani muda di Krandon Lor. Dulu mereka ketika sekolah SD di ajarin bahwa di Indonesia sebagai negara tropis itu ada 2 musim, yaitu penghujan dan kemarau. Musim penghujan berlangsung dari bulan Oktober hingga April. Sedangkan musim kemarau terjadi antara April hingga Oktober. Ini beda dengan musim di negara sub tropis atau kutub dimana mereka terbagi atas 4 musim yaitu musim rontok, musim dingin, musim semi dan musim panas. Para petani muda ini sambil nglinting rokok berkelakar bahwa pelajaran sekolah itu banyak bohongnya. Karena nyatanya hingga bulan Oktober tanggal akhir hujan tak kunjung tiba di Krandon Lor.
Jangankan hujan, cuaca malah serasa bertambah panas, dan kalaupun hujan paling hanya gerimis. Akhirnya mereka hingga akhir Oktober ini belum menyetuh sedikitpun lahan mereka baik sawah maupun kebun untuk digarap. Sawah dan kebun masih bero. Menganggur.
Hujan menjadi hal krusial di Krandon Lor karena daerah ini adalah mayoritas sawah tadah hujan sehingga keberadaan hujan menjadi hal penting bagi petani untuk membuat keputusan dalam penggarapan sawahnya. Kalau curah hujan tinggi mereka akan menanam padi. kalau curah hujan rendah mereka menanam palawija. Tidak ada hujan ya berarti akan tersedia puluhan hektar sawah menganggur, mengering, dan pecah-pecah, bisa untuk sembunyi tikus.
Beberapa proyek pembangunan desa selalu dialokasikan untuk membangun betonisasi. Mereka memprioritaskan pembangunan fisik berupa perbaikan jalan dengan mengeraskan jalan menggunakan beton. Pembangunan seperti ini terasa mubadzir karena jalan beton biasanya berumur pendek, tidak cukup kuat di lewati truk pasir atau pengangkut kayu. Selain itu pembangunan seperti ini tidak terasa bagi petani yang sebagian besar tidak memiliki kendaraan, bahkan motor sekalipun. Petani sebenarnya lebih membutuhkan ketersediaan air untuk pertanian dan salurannya.
Kalau sudah begini mereka pada mengeluh tentang pengalokasian dana pembangunan. Terasa sayang sekali sekian banyak uang di gunakan untuk membangun betonisasi jalan sementara urusan air dan saluran irigasi tidak pernah terpikirkan. Lebih menjengkelkan lagi kadang warga masih harus urunan untuk menyelesaikan pembangunan karena dana yang tersedia tidak mencukupi. Petani harus membayar pembangunan yang bukan untuk dirinya.
